HONG KONG, 21 September 2026 /PRNewswire/ — David Sun, CEO, Huawei Electric Power Digitalization BU, memaparkan visi baru bagi industri ketenagalistrikan dalam ajang Association of the Electricity Supply Industry of East Asia and Western Pacific (AESIEAP) CEO Conference (AESIEAP). Dalam presentasi bertajuk "AI and Energy Empowering Each Other, Intelligence Unlocking a New Future for Electric Power", Sun menyoroti dampak besar transisi energi global dan menempatkan jaringan tegangan rendah sebagai fokus utama pengembangan AI. Ia juga menguraikan kondisi industri saat ini serta visi strategis yang bertumpu pada enam kemampuan inti, pengembangan standar sistematis, dan penguatan SDM untuk mendorong transformasi cerdas di sektor ketenagalistrikan.
Jaringan Tegangan Rendah Menjadi Tantangan Krusial dalam Transisi Energi
Pada Agustus 2024, tepatnya dalam sesi pembukaan Paris International Council on Large Electric Systems (CIGRE), perwakilan International Energy Agency (IEA) menilai infrastruktur jaringan listrik menjadi salah satu hambatan utama dalam transisi energi global. Menurut Sun, persoalan yang lebih mendasar terletak pada pengelolaan dan transparansi jaringan tegangan rendah. Saat ini, sekitar 700 juta orang di dunia masih belum memiliki akses listrik, termasuk hampir 50 juta orang di Asia, sehingga pemerataan akses listrik masih menjadi misi jangka panjang. Pada saat yang sama, kapasitas terpasang PV terdistribusi di Tiongkok terus tumbuh dan diperkirakan melampaui 1 miliar kilowatt pada 2030. Pertumbuhan pesat tersebut membuat pengelolaan layanan tegangan rendah secara sistematis semakin penting. Ia turut menyoroti pentingnya transaksi di pasar listrik.
Untuk menjawab kesenjangan pengelolaan jaringan tegangan rendah yang telah berlangsung selama satu abad, Sun mengusulkan enam kemampuan inti untuk meningkatkan transparansi jaringan, yakni kemampuan mengamati, mengukur, mengendalikan, menyesuaikan, memperdagangkan, dan melacak. Menurut dia, langkah ini bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan perubahan dalam cara produksi.
Arsitektur Terbuka dan Fondasi Teknologi yang Kokoh
David Sun menilai cara produksi merupakan faktor terpenting. Kapabilitas profesional tetap dibutuhkan, namun yang lebih utama adalah kemampuan menggabungkan berbagai kapabilitas tersebut secara cepat guna mendukung bisnis, pelanggan, dan mekanisme operasional.
Sun juga menekankan pentingnya jaringan komunikasi sebagai fondasi. Tanpa komunikasi, berbagai proses tidak dapat berjalan. Karena itu, dua persoalan global—transparansi jaringan tegangan rendah dan konvergensi jaringan tegangan menengah—perlu diatasi.
Dari sisi arsitektur digital, Sun mendorong desain yang berjenjang, terpisah, dan modular, disertai model kolaborasi cloud-edge-device sesuai kebutuhan untuk mendukung aplikasi dan data.
Menurutnya, dengan dukungan data berkualitas tinggi secara real-time, AI perlu terintegrasi secara mendalam dalam seluruh proses ketenagalistrikan, pengelolaan aset sepanjang siklus operasional, serta layanan pelanggan secara menyeluruh. Integrasi tersebut turut membuka peluang inovasi di berbagai lini bisnis.
AI Semakin Terintegrasi dalam Aktivitas Operasional Ketenagalistrikan
Dalam presentasinya, David Sun memaparkan sejumlah hasil penerapan AI dalam konteks operasional jaringan tegangan rendah. Dalam bisnis State Grid Corporation of China, kombinasi teknologi komunikasi high-speed power line carrier (HPLC), model analisis anomali, dan agen AI yang menganalisis line loss berhasil memangkas biaya tenaga kerja secara signifikan. Melalui penerapan model marketing ontology, perusahaan juga memangkas waktu respons layanan pelanggan dari hitungan jam menjadi hitungan menit. Di luar Tiongkok, termasuk Brasil, penerapan platform manajemen microgrid dan pusat O&M terpadu secara signifikan meningkatkan akurasi prediksi beban jaringan listrik pada level wilayah transformator. Sementara itu, dalam pekerjaan operasional sehari-hari di lapangan, integrasi headset VR, model AI kecil yang berjalan di perangkat, dan model besar berbasis cloud secara signifikan meningkatkan keselamatan dan kepatuhan kerja. Berbagai penerapan tersebut membuktikan bahwa inovasi digital dan cerdas yang bertumpu pada data berkualitas tinggi secara real-time, mampu mendorong perusahaan ketenagalistrikan memasuki fase baru dengan efisiensi dan kualitas operasional yang lebih tinggi.
Menata Ulang Standar dan Pengembangan SDM
Agar pemanfaatan AI berlangsung dua arah, standar yang sistematis, terbuka, konsisten, dan visioner diperlukan untuk mempercepat inovasi teknologi, pemutakhiran industri, serta pengembangan ekosistem. David Sun mengusulkan kerangka tiga jenjang untuk pengembangan standar, yakni "indikator–arsitektur–teknologi". Menurutnya, standar tersebut juga perlu menjadi acuan bagi pengembangan SDM, transformasi digital, dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Huawei bekerja sama dengan sejumlah perusahaan terkemuka untuk mengembangkan program pengembangan SDM "Wittgenstein Studio". Program ini membantu perusahaan ketenagalistrikan menurunkan hambatan dalam digitalisasi, mendorong kreativitas para insinyur ketenagalistrikan, serta mendorong setiap insinyur menjadi "Mini-CEO" yang secara proaktif menghadapi ketidakpastian. Menurut Sun, industri ketenagalistrikan hanya dapat mencapai pertumbuhan berkelanjutan jika para insinyurnya menguasai pemahaman mengenai teknologi digital dan AI, serta mampu berperan sebagai pakar industri, seiring terbentuknya sistem tenaga listrik baru.
Huawei mendorong industri ketenagalistrikan melampaui peningkatan teknologi semata menuju transformasi ganda dalam cara produksi dan struktur talenta. Ke depan, ketika arsitektur terbuka semakin luas diterapkan dan AI digunakan dalam skala besar, industri akan mempercepat transformasinya untuk membangun sistem tenaga listrik baru yang transparan, cerdas, dan berkelanjutan. Dengan sinergi dua arah, langkah tersebut dapat memaksimalkan nilai tambah dari setiap kilowatt-jam.













